Kalau memang tidak ada kesempatan lain, maka cukup hidupkan satu masa di mana hanya teks yang berbicara.

Jangan lagi percaya, jejak hanya berbuah pijakan lama. Lewat sebuah karya, jejak-jejak telah subur menjadi bunga.

Sebelumnya kami hanya membaca, kini kami mulai mencerna. Sebelumnya kami hanya mencerna, tapi sekarang mulai kami menulis: puncak identitas tahap pembelajaran.

Siap: membaca, mengamati, menyimpulkan, memperbarui.


Dear Imajiner.... sastra-paraqibma.com menjadi stasiun bagi teman-teman yang ingin menikmati sajian cerpen minggu pagi. Kami akan berusaha mengarsipnya, disamping kami sediakan pula kolom yang langsung terhubung dengan cerpen beberapa maestro. Semoga berkenan.
_______________________________________________
Tampilkan postingan dengan label Yanusa Nugroho. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yanusa Nugroho. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 April 2012

Bukit Mawar

Cerpen Yanusa Nugroho (Kompas, Minggu 29 April 2012)
Namanya Arjuna. Laki-laki, kurus, bujangan, 45 tahun-an. Ada yang memanggilnya ”Mas Ar”, ada juga yang memanggilnya dengan ”Kang Juna”. Siapa yang benar? Kurasa dua-duanya benar, karena Arjuna hanya tersenyum.

Ketika ada yang penasaran mengapa dia diberi nama Arjuna, laki-laki itu hanya tersenyum ramah. Lalu, biasanya, dia akan melanjutkan dengan suaranya yang ragu dan sedikit gemetar bahwa itu pilihan ibunya. Ibunya hanya penjual bunga di makam.
”Apa ibu sampean penggemar wayang?” ada saja yang bertanya begitu.
”Saya tidak tahu. Dan saya juga tidak tertarik untuk bertanya,” jawabnya seperti biasa.
Arjuna juga tidak setampan yang dibayangkan banyak gadis; paling tidak itu yang dialaminya dulu ketika masih remaja. Wajahnya berkesan layu, apalagi dengan rambutnya yang lurus tipis dan selalu berantakan. Belum lagi ada beberapa bopeng bekas cacar semasa bocah, maka Arjuna sangat jauh dari bayangan kegantengan pemuda idola.
Dia sahabat sepermainanku, sejak masa belum sekolah, kemudian taman kanak-kanak, ngaji bersama, sampai kelas 3 sekolah dasar. Setelah itu, kami terpisahkan oleh nasib orangtua kami. Maksudku, aku terpaksa pindah ke Jakarta dan dia tetap di sana. Akan tetapi, nasib pula yang mempertemukan kami di tempat ini. Aku tinggal di dekat Bogor, dan ketika aku dan istri iseng-iseng mencari tanaman untuk rumah baru kami, aku dipertemukan dengan Arjuna.
Begitulah, tanpa upacara, nyaris tanpa kata, aku bertemu dengan Arjuna, yang masih kurus, layu dan wajah berbopeng luka cacar. Namun sejak itu—dua tahun lalu—aku sering bertandang ke kediaman sekaligus kebunnya.
***
Arjuna dan mawar memang tak terpisahkan. Maksudku, Arjuna adalah sahabatku, dan siapakah mawar? Bukan siapa-siapa, karena memang bukan manusia, tetapi tanaman. Mawar kampung.
”Kenapa?” tanyaku, suatu kali.
”Apanya yang kenapa?” jawabnya sambil membuat wadah dari sabut kelapa dan pelepah pisang untuk bibit. Tangannya sangat terampil menciptakan wadah-wadah sederhana itu.
”Mawar. Kenapa bukan Anthurium, atau Anggrek Hitam, misalnya?”
”Sudah pernah dan ketika anthurium merajai pasaran, aku bisa beli tanah ini, seluas ini,” ujarnya datar saja, tetap berkonsentrasi pada pekerjaannya. Kupandangi tanah seluas seribu meter persegi di tepi jalan itu. Ada patok-patok kayu.
”Mereka mau membangun mal,” ucapnya dingin.
”Maksudmu?”
”Mereka memaksaku untuk menjual tanah ini dan membangun mal di atas lahan ini.”
”Hmm… kalau harganya bagus, kenapa tidak dilepas.”
”Harganya bagus. Tapi aku tidak mau melepas.”
”Kenapa?”
Dia diam, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan sedikit kesal. ”Lantas di mana aku menanam mawar-mawarku?”
***
Sepulangku dari kediaman Arjuna, aku tak bisa tidur. Aneh, manusia satu itu. Kuperkirakan, dia bisa mengantungi sedikitnya dua miliar; dengan luas dan posisi dekat jalan raya, dan dengan uang itu dia bisa membeli tanah yang lebih luas…lebih daripada cukup kalau untuk menanam mawar kampung! Gila.
Tapi, entah mengapa, aku diserang rasa gelisah. Ada yang begitu murni, bodoh—mungkin—dan rasa cinta yang tulus, ketika dia mempertanyakan di mana akan menanam mawarnya. Ah, jangan-jangan aku sudah tertular penyakit gila yang dideritanya. Sangat tidak masuk akal. Sangat bodoh.
***
Beberapa bulan berlalu, aku tidak main ke rumahnya. Mungkin karena jengkel, mungkin juga karena merasa berhadapan dengan orang sinting, aku tidak berminat menemuinya. Tapi, mungkin juga karena aku memang ditelan kesibukan pekerjaan. Aku harus mengawasi proyek, yang kadang-kadang membuatku berhari-hari di luar kota. Ketika pulang pun, aku hanya bisa bertemu dengan kesunyian rumah dan si Min, pembantu kami, karena istriku pun ditelan kesibukan kantornya, dan saat itu dia di Makassar.
”Dua hari yang lalu, ada orang ke rumah, nyari bapak…” ujar Min sambil membongkar tasku.
Aku diam, mencoba menikmati kehampaan yang tiba-tiba menganga ini. Kusimak pembicaraan Min dan aku tahu bahwa orang itu pastilah Arjuna. Apalagi ketika kutanyakan apakah di wajahnya ada bekas bopeng cacar dan Min mengiyakan sambil tertawa, aku yakin, orang itu pasti Arjuna.
”Keberatan nama Pak, Arjuna, kok, nyekingkring.” tambahnya sambil tertawa geli sendiri.
”Ada pesan apa?”
Ndak ada…dia cuma bilang, ’o, ya, sudah’…terus pulang.”
***
Lama setelah itu, aku masih saja belum sempat menemui Arjuna. Aku mau telepon, tapi seingatku, dia tak pernah memberiku nomor HP. Manusia primitif satu ini memang istimewa sekali.
Sementara itu persoalanku sendiri dengan Andin—istriku—muncul lagi. Persoalan yang sebetulnya sudah bisa diduga dan diurai dengan mudah, tapi, sekali lagi, emosi dan tenaga kami habis disedot pekerjaan. Siang dan malam hanyalah soal terang dan gelap belaka. Rumah berkamar tidur dengan pendingin udara, bahkan bukan sebuah kesejukan di rumah kami. Kami adalah dua orang yang saling bermusuhan diam-diam dan menyembunyikan diri di balik laptop atau BB, untuk saling …entahlah. Aku bahkan kehilangan semua kosakata, dan anehnya dia yang dulu terkenal bawel—dan itu yang membuatku jatuh cinta—kini lebih bisu daripada batu.
Aku sendiri sudah tidak tahu lagi, sudah berapa jauh jarak kehidupan cinta kami terentang. Sejak kapan hal itu dimulai, kurasa dia pun tak punya jawaban. Yang ada hanyalah kami harus punya foto perkawinan yang bahagia, senyum manis tak terkira dan handai taulan, sanak saudara, kenalan, relasi, bos menganggap kami manusia bahagia yang patut dijadikan contoh.
Beruntunglah Arjuna, barangkali dia tidak menemukan neraka itu di rumahnya, karena dia hanya mengikatkan diri pada mawarnya.
***
Siang itu di proyek, yang kurasakan adalah tusukan sepi yang luar biasa. Di kantin, ketika makan siang, mataku tertuju pada televisi yang menyiarkan peristiwa. Ah, ini membuatku kian merasa terpuruk menjadi manusia; apa sebetulnya yang ingin kucari? Protes, demo, penembakan oleh aparat, korupsi, artis dilecehkan, wartawan dan pelajar saling jotos, guru menggampar murid, murid membunuh guru…; coba sebut satu saja yang mampu memberikan harapan hidup lebih baik.
Tapi, ketika seorang penyiar menyebut satu nama—sambil sedikit tersenyum, aku seperti tersengat lebah. Arjuna jadi berita. Ah, pastilah kasus tanahnya. Ah, bagaimana dia? Kusimak berita, tapi tak kulihat si Arjuna. Hanya ada massa yang kulihat mendukung Arjuna—di halaman Kantor Pengadilan Negeri.
***
Entah mengapa, berita tv siang itu menggangguku; paling tidak, telah berubah menjadi semacam isu di antara kami. Sambil makan malam bersama kolega bisnis properti dan beberapa investor, percakapan tentang Arjuna menjadi bagian dari menu malam itu. Aku tentu saja harus bersama Andin, yang sejak semula harus merasa bahagia bersamaku.
”Andin, coba kalau kamu punya tanah seluas itu dengan harga jual yang sangat bagus—di atas NJOP di wilayah itu—kamu bertahan?” ucap bosku sambil menyuapkan potongan steik ke mulutnya.
Andin hanya tersenyum saja, menjawab tanpa jawaban. Sempat kulirik senyumnya. Masih senyum yang dulu kukenali dan kusukai. Sesaat kemudian pandangan kami bertemu di suatu sudut yang dulu pernah kami singgahi; sudut kecil saja di kenanganku—paling tidak.
”Kalau saya, maaf, tanah itu tidak akan saya jual…” entah mengapa, aku tiba-tiba seperti didorong oleh tenaga aneh, meloncat begitu saja dari mulutku.
Meja makan seperti tersiram es. Aku tahu, tak seorang pun boleh membantah ucapan bosku, karena dia adalah bos.
”Mmm…bukan itu jawaban yang aku harapkan, apalagi dari kamu. Tapi, …mm…tolong, buat aku bisa memahami ’kebodohan’ yang…” dia menebar pandangan kemudian tertawa, diikuti orang semeja. Kulihat Andin salah tingkah.
”Mmm…(aku menelan ludah)…maksud saya, saya paham pada apa yang dilakukan Arjuna…”
”Ooo, jadi kamu kenal juga dengan si Arjuna?” sela bosku, yang melanjutkannya dengan gelak tawa.
”Mmm…ya, Pak. Dia sahabat sepermainan…”
”Maaf…bilang sama Arjuna, dia boleh saja menikmati kemenangannya kali ini. Tapi itu tidak lama…”
Di perjalanan pulang, aku membisu. Andin membeku. Entah mengapa, aku merasa tiba-tiba menjadi ancaman bagi Arjuna.
Entah mengapa, tiba-tiba Andin membuka pembicaraan yang membuatku merasa kian bodoh. Bermula dari celaannya tentang mengapa aku tiba-tiba berkomentar tentang pertanyaan yang bahkan bukan untukku, sampai sebuah hubungan antara kantorku dengan Arjuna yang selama ini sama sekali tak kusadari.
”Makanya, jangan asyik sendiri. Jelas sekali, siapa pun tahu kalau kantormu itu gurita dengan sejuta tentakel. Terus mau apa? Demi Arjuna dan mawarnya itu, kamu mau apa?”
Aku diam. Aku hanya ingin sampai di rumah.
***
Sejak peristiwa makan malam itu, aku jadi makin kehilangan kegembiraan bekerja. Semua perhatianku, bahkan mimpiku, tersedot pada Arjuna dan mawarnya. Dan entah mengapa, di mata bosku, aku seperti duri dalam daging. Kusadari semuanya tanpa perasaan apa-apa. Kuterima semua penilaian atas dedikasiku selama ini, dari bosku, dengan jiwa kosong. Aneh juga rasanya, tapi itulah yang kualami. Termasuk ketika bos menawariku posisi lain di salah satu perusahaannya yang lain—untuk menghilangkan ’duri’ yang ada di ’daging’-nya, aku menolak dengan halus. Aku memilih duduk di samping Arjuna yang tenang membuat wadah-wadah sederhana dari tapas kelapa dan pelepah pisang.
***
Itulah yang kulakukan. Dan ketika aku sampai di rumah Arjuna, aku dibuat terperangah. Rupanya, selama ini, ketika proses pengadilan berlangsung, pihak ’pembeli’ bahkan sudah membangun bangunan, memang belum finishing, tapi bangunan itu sudah berdiri. Ya, Tuhan, sudah berapa lama aku tidak berhubungan dengan Arjuna?
Dan bangunan itu, oleh Arjuna sengaja tidak dihancurkan. Orang gila satu ini memang selalu aneh-aneh. Dia bahkan menggali tanah di sekeliling bangunan belum jadi itu dan menguruk seluruh bangunan itu hingga menjelma bukit. Bukit tanah merah yang dikelilingi parit dalam.
Kusaksikan orang-orang kampung yang mendukung tindakan Arjuna di pengadilan sibuk melakukan ini-itu. Kami duduk di tanah menatap ’bukit’ yang baru lahir itu.
”Apa yang akan kamu lakukan dengan bukit ini?”
”Bayangkan, Tom. Ini nanti akan jadi bukit mawar. Seluruhnya aku tanami mawar kampung.”
”Seluruhnya?” dan kudengar Arjuna tertawa bahagia. Kemudian dia menyambung bahwa parit yang lebar dan panjang mengelilingi bukit ini akan jadi lahan pemancingan, yang mengurusi nanti adalah–dia menyebutkan beberapa nama yang kuduga orang kampung situ.
Sambil membayangkan di sana-sini muncul warung makan kecil, dan orang-orang makan ikan bakar, atau sekadar minum kopi, mereka menikmati ”keajaiban dunia”: bukit mawar. Arjuna bukan hanya membangun keajaiban, bukan juga membangun mimpi, tetapi harapan bagi orang banyak. Aku jadi kian merasa tak ada apa-apanya berhadapan dengan anak janda penjual bunga di makam ini.
”Terima kasih, kamu mau datang,” ucapnya dengan senyum mawarnya. ”mmm…ngajak mbak Andin, ya…”
Andin menyusulku? Dan kulihat Andin gembira, gelak tawanya lepas, seperti murai yang berkicau di pagi hari, dia pun mengoceh dan mengoceh. Aku terkunci dalam kebingunganku sendiri.
”Aku suka ini. Aku gembira ada yang bisa memutus rantai kebekuan. Dan aku bangga, kau pun melakukan itu.” Ucapnya dengan wajahnya, yang—ah, kenapa jadi cantik sekali?
”Aku tidak melakukan apa-apa…”
”Kau keluar dari gurita raksasa, itu adalah sebuah perbuatan gila, sinting, tapi benar. Dan…aku bangga bahwa aku masih punya seseorang yang mau berbuat benar.”
”Meskipun gila?” godaku.
”Plus sinting dan nekat,” tambahnya diikuti gelak tawa.
***
Setelah dia jelaskan apa yang akan dilakukannya dengan bukit itu, dia pun merangkak memanjat bukitnya. Di tangan kanannya tergenggam sebatang mawar.
Sebuah ritual pun dimulai.


Sabtu, 28 April 2012

Kuda kayu bersayap..

31/03/2009 Cerpen Yanusa Nugroho

Komidi putar itu masih saja berputar. Kuda-kuda kayu yang naik turun dengan anak-anak riang di punggungnya itu, sungguh-sungguh menciptakan warna-warni kegembiraan kanak-kanak. Kusaksikan anakku berada di antara mereka dengan sebaris giginya yang putih bersih, menebarkan kegembiraan hatinya. Seolah dia ingin membagi suka, dan melupakan duka. Mereka seakan berada di punggung kuda dongeng yang akan membawa mereka terbang ke awan-awan kebebasan tanpa batas. 

Lampunya yang gemerlapan, silih berganti menerangi wajahku. Merah, kuning, hijau, biru, bergantian mengoleskan nuansanya ke wajahku. Sesekali aku membalas lambaian tangan anakku, yang tak henti-hentinya tertawa riang. Gelak tawanya timbul tenggelam di antara alunan musik yang mengiringi komidi putar itu. Sekali dia melintas, kemudian menjauh, menghilang ke sisi sebelah sana, lalu muncul lagi, melintasiku dan menghilang lagi. Begitu berulang-ulang.
Kepalaku terasa pening. Sesekali kupijit keningku.
“Masih pusing, ya?” bisik Nina, istriku. Ada nada khawatir di suaranya.
“Sedikit..” jawabku singkat.
Nina diam, tapi aku tahu dia pasti merasakan sesuatu yang -entah mengapa-masih saja muncul dalam pikiranku. Tangannya yang masih selembut dulu, tiba-tiba meremas jemari tanganku. “Dingin sekali. Masuk angin, ya? Kenapa tadi pergi, kalau tahu badannya nggak enak?”
“Nggak apa-apa, kok..”
“Kalau tahu begini, kan , bisa aku yang ngajak Rani..Mas. Kan , bisa istirahat di rumah..”
“Sudahlah, nggak apa-apa, kok. “
Nina cuma menghela nafas. Kupandangi wajahnya. Dan matanya yang bulat jernih itu menatapku khawatir. Ingin aku menciumnya saat itu juga, untuk menghapus kekhawatirannya. Namun, kurasa sebuah ciuman tak akan menghapus rasa was-was yang telah menahun di pelupuk matanya.
Sambil memandangi bidadariku yang timbul tenggelam di antara keriangannya di punggung kuda kayu itu, kupeluk Nina. Kudekap erat dia. Entah mengapa, aku diserang rasa khawatir yang aneh.
Kekhawatiran yang sama seperti yang kurasakan ketika malam itu kami harus menyisir kawasan hutan di timur kota. Di sana yang kami temui hanyalah kegelapan penuh teka-teki. Hitam menganga yang bisa menciptakan apa saja. Kepekatan yang bisa saja mengubah kesunyian menjadi pesta ledakan mesiu. Di sini pula, dua hari yang lalu, Trisno tewas. Anak Kediri itu, baru sebluan ditugaskan di sini dan harus ikut patroli rutin. Dia dihajar peluru tanpa pernah sempat mengucapkan sepotong kata pun.
Meskipun dalam kondisi yang harus selalu siaga dan nyaris tak punya kesempatan ngobrol, aku dan Trisno sempat akrab. Dia ternyata tak tahan melihat darah. Aku ngakak, dan mengatakan bahwa dia telah salah memilih karir sebagai tentara.
“Ya, mbuh, Mas.. saya tidak pernah bercita-cita, apalagi memilih karir di sini..” jawabnya kalem, sekalem penampilannya.
Di kesempatan lain, ketika kami patroli, dia juga bercerita bahwa pacarnya sudah dipinang dan bulan berikutnya, katanya, dia akan menikah. Tapi, karena mendadak ditugaskan, semuanya batal. Tahun lalu, di baraknya, tengah malam buta dia dibangunkan dan berkemas dalam tempo 5 menit, langsung duduk di truk yang telah siaga. Tanpa diberi tahu harus ke mana, Trisno memanggul senjata dan ransel berisi perbekalan seadanya. Yang dia rasakan, tiba-tiba dia dipindahkan ke sebuah pesawat yang segera terbang. Hanya kebisuan dan tandatanya besar yang mengiringi keberangkatan mereka-seperti yang biasa kualami juga.
Setelah entah pindah beberapa kali kendaraan, tahu-tahu dia diturunkan di suatu tempat yang asing baginya. Begitu fajar merekah, tuturnya, dia berada di kolong sebuah jembatan besar dan megah. Baru belakangan dia tahu bahwa saat itu dia berada di kolong Semanggi-Jakarta.
Jakarta, sebuah kota yang selama ini hanya ada di layar kaca televisi (jika dia sempat menonton), saat itu tengah menelannya bulat-bulat. Karena kelelahan, dia tertidur di kolong beralaskan koran dan tripleks seadanya. Dia terbangun karena komandan memberinya aba-aba. Dengan ‘nyawa’ yang belum sepenuhnya berkumpul, Trisno sudah harus siaga menghadapi lautan masa mahasiswa yang berteriak-teriak riuh. Sebuah batu yang menghantam wajahnya, membuatnya ‘sadar’ apa yang tengah dihadapinya saat itu.
Cerita selanjutnya adalah cerita kami semua. Siapa yang tak mengerti kelanjutan cerita itu. Saat itulah dia sempat menyaksikan seraut wajah yang dia ingat betul. Wajah seorang kawan sebangku di SD dulu, dan belum lama menghilang dari kotanya. Kabarnya menjadi kuli bangunan, ada juga cerita si kawan menjadi sopir, entahlah, tapi yang jelas Trisno tahu persis bahwa dia tak pernah menjadi mahasiswa. Akan tetapi, di sore itu, wajah itu berjaket biru dan berteriak paling lantang di antara para mahasiswa, dan dengan kegagahannya segera melemparkan bom molotov ke arah barisan Trisno.
Mata mereka sempat beradu pandang dan kedua-duanya tertegun untuk beberapa saat. Lalu semuanya pecah, tumpah ruah dan si kawan menghilang entah ke mana. Korban berjatuhan dan Trisno hanya termangu menyaksikan apa yang baru saja terjadi begitu cepat di depan matanya. Ketika malam tiba, barulah dia merasakan perutnya melilit kosong, karena 24 jam belum terisi apa-apa.
Begitulah kisah Trisno yang malang itu. Malam nahas yang merenggut nyawanya itu, sebetulnya sudah kami duga. Kami sudah mencium di beberapa titik tertentu di batas desa ini, bisa muncul serangan mendadak. Namun, sekali lagi, itu adalah malam nahas dan Trisno tewas, bahkan sebelum sempat mengenyam madu pernikahannya.
Pada hari berikutnya, aku dalam rombongan penyisiran. Kami sempat bentrok dan nyaris terbantai karena posisi kami terjepit. Rombongan orang bersenjata itu segera memberondong rekan-rekanku, sambil berteriak histeris. Salah seorang yang meringkusku sempat melukaiku dengan senjata tajam dan mengejek bahwa mereka tak akan terkalahkan hanya oleh serdadu semacam aku. Namun, sebelum semuanya terjadi, pasukan bantuan datang dan membuat mereka kalang kabut.
Kepada komandan di markas kulaporkan bahwa aku sempat mengenali wajah-wajah orang-orang itu, dan kami putuskan untuk mengadakan serangan mendadak siang itu juga. Sangat mudah menemukan di mana mereka tinggal, dan aku menjumpai seraut wajah yang menorehkan ujung senjatanya ke wajahku. Namun, tak satu pun senjata kami temukan di rumah mereka. Dengan keluguannya dan ketakutannya mereka menyebut diri mereka petani yang tak tahu apa-apa.
Kepalaku mendadak pening dipenuhi oleh rasa marah dan frustrasi. Kucengkeram dia dan kuhempaskan di tanah. Kutunjukkan luka wajahku yang belum lagi kering oleh ujung senjatanya. Dia terkesiap sesaat namun dengan segera mengubah wajahnya menjadi petani lugu yang pasrah pada nasib.
Entah renteten peristiwa apalagi yang kulalui bersama kawan-kawan, aku tak tahu. Bagiku sudah tak ada lagi bedanya mana petani mana pemberontak. Sama saja. Mereka akan membantai manakala kita tak membantainya. Membunuh dan dibunuh hanyalah sebuah kartu remi yang bisa kita mainkan setiap malam. Aku sudah tak begitu percaya lagi pada apa yang disebut kebenaran, karena dalam setiap hirupan nafasku yang ada hanyalah kebohongan demi kebohongan. Entah pada malam yang keberapa aku sudah tak tahu lagi, kumuntahkan timah-timah panas ini kepada gerombolan manusia secara membabi buta. Pertempuran itu merupakan insiden yang tak terelakkan, setelah markas polisi di kecamatan digranat dan beberapa orang yang berjaga tercacah sia-sia.
Aku juga akhirnya menerima nasib bahwa semua pengabdianku adalah sebuah kesia-siaan dengan dipecat tanpa hormat. Kujalani hidupku sebagaimana orang yang pernah menjalani rawat inap cukup lama di sebuah rumah sakit aneh. Kujalani semuanya dengan perasaan kosong dan nyaris tanpa gairah hidup, sampai beberapa hari yang lalu aku menyaksikan berita televisi.
Berita itu menyoroti kebrutalan peristiwa ketika aku terlibat di dalamnya dan yang menjadi korban adalah rakyat kecil. Salah satu saksi mata yang dengan berhujan tangis berkata di layar adalah orang yang kuhempaskan ke tanah; orang yang menyerangku dengan senjatanya. Rupanya dia sudah menjadi aktor sinetron yang layak mendapat Oscar!
Sejak itu, aku diserang demam dan mual-mual. Nina sempat membawaku ke dokter, tetapi dokter hanya menyarankan agar banyak-banyak istirahat. Dalam hati aku katakan kepada dokter itu bahwa penyakit yang kuderita ini bukanlah bidangnya. Dia terlalu bodoh untuk bisa mengetahui gejala penyakitku. Aku masih bersyukur bahwa aku memiliki Nina dan malaikat kecilku yang saat ini masih asyik tertawa riang di punggung kuda komidi putar itu.
Dalam perjalanan pulang, Ita, malaikat kecilku itu tertidur. Dalam pelukanku dia nyaman, entah bermimpi apa dia kali ini. Nina dengan kekhawatirannya yang belum reda, memeluk pinggangku. Kami berjalan perlahan menuju jalan besar dan mencari kendaraan pulang. Orang masih lalu-lalang dan keramaian masih akan terus berlangsung sampai dua atau tiga jam lagi. Di keriuhan itu, kami berjalan membisu. Aku enggan berbicara dan rupanya Nina tahu dan takut mengajakku bicara.
Aku tengah mempersiapkan sebuah jawaban, bila nanti aku mendapat pertanyaan dari malaikat kecilku yang saat ini belum sekolah ini. Jawaban apa yang harus kusiapkan, apabila dia suatu kali nanti bertanya tentang ‘kebenaran’ peristiwa yang membawaku ke jalan ini? Dia yang sudah mulai ceriwis bertanya tentang ‘mengapa kumbang hinggap di kembang’, mengapa bintang berkelap-kelip, mengapa ayah berkumis, mengapa ada orang mati, mengapa ini dan mengapa-mengapa yang lainnya, pasti akan bertanya mengapa ayah membunuh orang. Aku tak tahu pasti jawaban apa yang harus kuberikan. Aku juga tak tahu apakah dia memiliki bayangan tentang apa itu pahlawan dan apa itu pengkhianat.
Pentingkah bagi dia, itu semua?
Kami berjalan dan berjalan sampai menemukan bajaj yang akan membawa kami pulang. Ketika istriku masuk dan siap menerima si kecil dari tanganku, tiba-tiba sesuatu terjadi. Entah dari mana, empat lelaki bertubuh tegap langsung menyeretku, setelah sesaat sebelumnya menanyai namaku.
Ketika kujawab memang akulah orang yang ditanyakan itu, sebuah pukulan menekuk tubuhku. Lalu tendangan dan entah apalagi menghajarku sampai aku tak bisa merasakan apa-apa lagi, selain suasana tenang menghanyutkan.
Kurasakan diriku mengambang di udara dingin malam. Kusaksikan kuda-kuda kayu putih yang berada di komidi putar itu kini bergerak hidup, bahkan bersayap seperti Pegasus. Anak dan istriku duduk riang di punggungnya dan kuda itu melayang dengan kepakan sayapnya yang anggun, menembus mega-mega. Mereka tertawa, namun telingaku lamat-lamat menangkap isak tangis Nina dan entah suara apalagi.
Tiba-tiba aku menyadari diriku juga sedang berada di punggung kuda kayu yang lain, yang juga tengah membentangkan sayapnya menuju awan kebebasan, entah di mana tempatnya..