Kalau memang tidak ada kesempatan lain, maka cukup hidupkan satu masa di mana hanya teks yang berbicara.

Jangan lagi percaya, jejak hanya berbuah pijakan lama. Lewat sebuah karya, jejak-jejak telah subur menjadi bunga.

Sebelumnya kami hanya membaca, kini kami mulai mencerna. Sebelumnya kami hanya mencerna, tapi sekarang mulai kami menulis: puncak identitas tahap pembelajaran.

Siap: membaca, mengamati, menyimpulkan, memperbarui.


Dear Imajiner.... sastra-paraqibma.com menjadi stasiun bagi teman-teman yang ingin menikmati sajian cerpen minggu pagi. Kami akan berusaha mengarsipnya, disamping kami sediakan pula kolom yang langsung terhubung dengan cerpen beberapa maestro. Semoga berkenan.
_______________________________________________
Tampilkan postingan dengan label Map Minggu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Map Minggu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 April 2012

Sumbi Pada Suatu Hari

Cerpen M. Raudah Jambak (Harian Analisa, Minggu 29 April 2012)
Malam pekat. Bulan masih sembunyi di bilik awan. Laju kendaraan meluncur satu-satu. Perempuan itu masih berdiri, bersandar pada tiang traffic light. Samar-samar, dia masih mendengarkan suara orang mengaji dari puncak menara masjid. Ada pedih yang tergores di dadanya. Masih terngiang jerit tertahan anaknya yang melihat kepergiannya. Meronta dari pelukan Sumiati, ibu kosnya. Sesak dadanya, tapi dia harus pergi. Dia harus bekerja. Sudah tiga hari anaknya tidak menikmati susu.
Tadi pagi suhu tubuh anaknya memanas. Sampai terakhir tadi sebelum kepergiannya, suhu tubuh anaknya tidak juga turun. Malah cenderung naik. Dia tetap memutuskan untuk pergi.

Jika sudah seperti itu, acap kali dia memaki dirinya sendiri. Tidak pernah sekalipun terpikirkan olehnya akan menjadi seperti ini. Tidak pernah sekalipun dia bercita-cita menjadi seorang pelacur. Puih! Apalagi ketika wajah seorang lelaki yang pernah dicintainya, melintas begitu saja.

Kalau tidak karena lelaki itu, mungkin dia sudah menjadi direktris pada salah satu perusahaan cabang milik ayahnya. Kalau saja lelaki itu tidak membuat ulah, mungkin ayahnya juga akan menyerahkan perusahaan yang lain kepadanya. Apa daya dia terlanjur salah langkah. Dia lebih memilih lelaki itu daripada ayahnya.

"Kau harus tahu, Anakku," ujar ayahnya,"Rizal tidak sepadan untukmu. Kau anak orang terhormat, sedangkan Rizal?"

"Aku sangat mencintainya, Ayah."

"Lelaki yang selalu mengganggu rumah tangga orang lain. Lelaki yang selalu mengumbar nafsunya pada orang lain. Lelaki yang menghancurkan perusahaan kita, keluarga kita. Lelaki seperti itu yang kau pilih?!"

"Aku sudah membuat keputusan, Ayah."

"Baik. Kalau memang itu sudah tekadmu. Ayah juga akan membuat keputusan!"

Ayahnya tepaksa membuat keputusan. Dengan suara berat dan berwibawa, ayahnya terpaksa memberikan pilihan yang sulit. Memenjarakan lelaki itu, yang menghancurkan perusahaan ayahnya atau tetap menjadi bagian dari keluarga besar Sudirman, ayahnya. Apa, lacur. Dia lebih memilih lelaki yang jelas-jelas telah menghancurkan keluarganya. Sejak saat itu ayahnyapun secara tegas tidak lagi mengakuinya sebagai seorang anak. Dia tetap memutuskan untuk pergi.

Pernah sekali waktu, dia mengunjungi ayahnya yang sedang keadaan sakit keras. Itupun karena ibunya berkali-kali meneleponnya, memintanya untuk pulang. Ayahnya selalu mengigau menyebut namanya. Begitu ia sampai, bukan kerinduan yang dia rasakan, justru makian bertubi-tubi yang dia dapatkan. Padahal, dia telah menghiba-hiba bermohon untuk dimaafkan. Demi melihat kondisi kesehatan ayahnya yang semakin parah melihat kehadirannya, dia memutuskan untuk pergi. Dia pergi ditingkahi suara tangis ibunya yang memintanya untuk tetap bertahan. Dia memutuskan untuk tetap pergi.

Memang ada penyesalan mendalam. Hanya saja, tekadnya sudah bulat. Keputusannya tidak bisa diganggu gugat. Sepanjang perjalanan, dia renungi segalanya. Semua terasa gelap. Dia tidak menemukan jalan keluar. Persis seperti kelengangan jalan. Persis seperti kepekatan malam. Dia memutuskan untuk hidup bersama tanpa ikatan bersama Rizal, kekasihnya. Itupun karena janji Rizal akan menikahinya secara resmi, jika dia sudah mendapatkan pekerjaan.

Bersama Rizal, dia menyewa sebuah rumah sederhana. Dia bisa menerima. Selama menunggu Rizal mendapatkan pekerjaan, dia yang mengatasi uang sewa rumah. Termasuk segala kebutuhan hidup mereka berdua. Juga segala kebutuhan Rizal. Untunglah tabungannya lebih dari cukup. Ayahnya selalu memberikan apa yang dia inginkan. Sejak memutuskan hubungan keluarga ayahnya juga memutuskan segalanya. Termasuk urusan uang.

Hampir setahun mereka hidup bersama. Keresahan dan kebahagiaan semakin terasa tipis batasannya. Terutama ketika dia menyampaikan kabar gembira, dia sudah telat bulan. Sudah satu bulan mengandung calon anak mereka. Rizal terdiam. Rizal malah menyarankan, menggugurkan kandungan itu. Dia bertahan, sebab dia merasa bahagia. Rizal memberi solusi lain. Rizal meminjam uang lima puluh juta, untuk dibayarkan kepada sebuah perusahaan yang akan menerimanya bekerja, jika Rizal bisa menyetor uang sejumlah lima puluh juta.

Perempuan itu ragu, tetapi Rizal mampu meyakinkannya. Akhirnya, isi tabungan perempuan itu hanya menyisakan lima juta. Selebihnya berpindahtangan ke Rizal. Tak berpanjang kalam, Rizalpun segera meluncur ke perusahaan yang dia maksud. Dengan segala cinta dan doa, perempuan itu melepas Rizal. Entah karena waktu meluncur terlalu cepat atau karena hasrat yang tak terbendungkan, perempuan itu seperti tak sabar menunggu kabar berita dari Rizal.

Belum berbilang minggu, kabar tentang Rizalpun terdengar. Tubuhnya seperti hancur, sehancur-hancurnya. Lelaki yang melebihi segala hatinya, telah menikah dengan perempuan lain. Dengan seorang menejer perusahaan tempat rencana Rizal bekerja. Dia harus bertahan. Dia bertekad harus tetap bertahan hidup. Itu filosofi yang diajarkan oleh ayahnya. Bertahan hidup.

Malam pekat. Bulan masih sembunyi di bilik malam. Perempuan itu masih bersandar di tiang traffic light. Suara orang mengaji dari menara masjid, masih terdengar samar ditingkahi laju kendaraan yang meluncur satu-satu. Kebahagiaannya sempat membuncah ketika jerit lengking si bayi mungil di pelukannya. Sepeninggal Rizal, dia pindah dari kota J ke kota M. Bekerja di sebuah pabrik. Memutuskan cuti melahirkan. Menganggur menghabiskan simpanan setelah pabrik tempat dia bekerja tidak menerimanya lagi, dengan alasan yang tak jelas. Menghabiskan simpanan, setelah semua tempat menolak lamarannya. Mengatur semua kebutuhan dia dan anaknya.

Dia tidak pernah bercita-cita ingin seperti ini. Dia tidak pernah sekalipun berharap menjadi seorang pelacur. Puih! Karena lelaki itu. Bukan. Bukan karena lelaki itu. Demi anaknya, yang kini terbaring sakit. Anaknya yang menjerit tertahan melihat kepergiaannya. Dia harus pergi. Memutuskan untuk pergi.

Jujur, dia kikuk, ragu. Dia hanya memberanikan diri. Selama ini, dia masih tetap bisa bertahan walau mandor pabrik tempat dia bekerja dulu sempat memintanya menjadi istri simpanan. Memaksanya menikah siri. Memaksanya menjadi istri dengan janji menceraikan istri sahnya. Termasuk bertahan ketika sang mandor berusaha memperkosanya. Dia meyakinkan dirinya, Tuhan tak akan pernah meninggalkannya. Yakin Tuhan akan selalu menjaga dia dan anaknya.

Malam sepekat ini. Keyakinannya seakan buyar. Pertahanannya seakan ditembus peluru keraguan. Dia merasa Tuhan seakan membiarkannya. Sesamar suara orang mengaji dari menara masjid di ujung jalan sana. Segelap malam yang pekat. Sesunyi laju kendaraan yang meluncur satu-satu. Sepedih hatinya yang koyakmoyak. Sepanas suhu tubuh anaknya yang terbaring sakit. Dia lapar, haus. Tubuhnya gemetar.

Dalam beberapa kesempatan, dia belum juga memberanikan diri menawarkan diri. Mulai dari anak jalanan sampai lelaki hidung belang. Mulai dari penarik becak sampai pembawa gerobak. Dia juga belum berani mengiyakan beberapa tawaran dari laki-laki yang hobi jajan. Termasuk segerombolan lelaki yang berusaha memaksakan hasratnya.

Perempuan itu meronta. Perempuan itu memberontak. Gerombolan lelaki itu berusaha mendekap. Berusaha membekapnya. Dengan beringas gerombolan lelaki itu melucuti pakaian perempuan itu satu persatu, sampai akhirnya polos tanpa sehelai benangpun. Perempuan itu pasrah. Samar-samar dia masih mendengar suara mengaji dari menara masjid. Samar-samar terbayang wajah bayinya yang menjerit, ditingkahi suara tertawa penuh nafsu gerombolan laki-laki itu. Samar-samar wajah gerombolan lelaki itu tak lagi tampak olehnya. Yang ada hanya gelap pekat. Terdengar seperti suara letusan senjata api menggema di udara diselingi samar-samar suara orang mengaji dari puncak menara masjid di ujung jalan sana. Mung kin Tuhan belum sempat menjenguknya.

Perempuan itu tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Perempuan itu hanya tahu, dia sekarang berada di sebuah ruangan yang sangat menyenangkan. Serba putih. Aromanya begitu semerbak. Dia berada di atas sebuah tempat tidur yang begitu lembut dan bersih. Di sebelah kanan atas sebuah pesawat telepon. Tidak jauh dari arah kakinya di atas sebuah bufet, sebuah pesawat televisi. Perabotan lain yang berada dalam ruangan itu. Lengkap sangat lengkap.

Belum hilang keterkejutannya dengan suasana ruangan yang begitu nyaman. Dia terpesona dan takjub ketika melihat ke arah cermin. Seolah seorang putri tengah menatapnya. Ada perasaan malu bukan kepalang. Apalagi dibandingkan dengan kondisinya saat ini. Ketika dia melihat, ternyata perempuan dalam cermin itu adalah dirinya. Da lebih terkejut lagi. Ada rasa bahagia sekaligus sedih bersamaan. Bahagia karena akhirnya dia menjadi seorang putri. Sedih karena dia teringat anaknya. Perempuan itu merasa Tuhan telah menjeputnya. Tuhan telah menempatkannya di Surga.

Dia menari gembira di depan cermin. Dia berjanji suatu waktu nanti, dia akan mengunjungi anaknya. Belum sempat dia meluapkan kegembiraannya, sebuah ketukan keras di pintu mengejutkannya. Begitu dia bergerak hendak membuka pintu, seseorang telah masuk begitu saja. Sebelum dia mengeluarkan pertanyaan, dia mendengar sebuah perintah mengejutkan.

"Persiapkan dirimu. Layani Bos dengan baik!"

Perempuan itu tersentak, begitu dia menyadari situasinya, dia menangis sejadi-jadinya. Dia menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Telungkup. Terisak. Menghardik Tuhan. Memanggil nama anaknya. Memanggil nama ibunya. Memanggil nama ayahnya. Berteriak histeris. Aliran ketakutan seketika menjalar di nadinya. Terdiam tertahan, ketika sebuah bentakan seolah memecahkan telinganya.

"Diam!" nafas lelaki itu terdengar memburu,"Tak ada gunanya kau menangis. Kau milikku sepenuhnya. Tugasmu melayaniku. Tugasku merasakan kepuasan darimu..."

Perempuan itu terdiam. Dia merasakan aura penuh nafsu dari nafas lelaki itu. Di balik itu, dia begitu mengenal suara berat dan berwibawa dari laki-laki itu. Suara yang begitu dikenalnya selama bertahun-tahun. Mirip suara dari orang yang begitu melindungi dan menyayanginya. Mirip suara orang yang begitu menjunjung tinggi kehormatan. Segera dia membalikkan badan. Perempuan itu terkejut begitu mengetahui lelaki separuh baya yang ada di hadapannya. Bersamaan dengan itu, lelaki separuh baya yang nyaris bugil itu, lebih terkejut lagi.

"Sumbi?!"

Komunitas Home Poetry, 2011

sumber: http://www.analisadaily.com

Afrodit

Cerpen Wendoko (Koran Tempo, Minggu 15 April 2012)
IA melihat cahaya kemerahan. Ia melihat cahaya bergoyang goyang cepat, seolah sambar an lampu pijar. Cahaya yang merobek gelap, dan meninggalkan jejak. Cahaya yang menyorot ke kanan, dan kadang menghantam ke mukanya, menyisakan selaput katarak dalam noda-noda hitam. Kadang cahaya itu melambat, dan tinggal pendar-pendar kuning-limau atau jingga-pudar.

Lalu ia mendengar suara mengentak-entak. Suara yang menendang-nendang jantung, dan memukuli gendang telinga. Ia lalu memejamkan mata. Selama beberapa jeda ruangan itu gelap, dan ia menunggu sisa-sisa cahaya itu pudar dan tubuhnya lambat-laun diam. Tapi suara-suara makin keras. Ia mulai merasakan tekanan di dadanya, seolah urat darahnya pecah. Paru-parunya mengerut dan membuka, dan sekejap tampak lagi warna-warna cahaya yang menyambar.
Lalu ia teringat jari-jari tangannya menyentuh lutut perempuan itu. Lutut yang putih, mungkin karena efek cahaya. Mula-mula ia hanya menyentuh, tapi kemudian jari-jarinya menelusuri lekuk lutut yang seolah pahatan. Bergerak maju-mundur, lalu melingkar—dan perempuan itu tersengal. Tapi sengal itu tak bisa ia bedakan dari denyut nadi di telinganya. Otaknya serasa meleleh. Lalu gerakan itu merayap naik. Lalu tarikan napas ringan, dan beberapa saat ruangan terasa lebih dingin.
Waktu ia terbangun, perempuan itu masih terlelap. Perempuan yang ia lihat di kafe semalam. Perempuan yang, entah bagaimana, tahu ke mana ia pergi mengusir penat. Perempuan yang tahu di mana selama ini ia mengendapkan malam atau sekadar minum kopi. Perempuan yang bahkan tahu apartemen ini…. Perempuan berparfum Black Pearls. Tubuhnya ramping, kulitnya sangat bening, mata setengah mengantuk, dengan bibir kering tapi merah.
Dan ia baru saja berselingkuh. Tetapi apakah bisa disebut berselingkuh, jika setiba di apartemennya perempuan itu langsung tertidur? Apakah bisa disebut berselingkuh jika istrinya pergi hampir dua bulan lalu karena berselingkuh?
Tapi ia tahu perempuan itu bernama Eta.
 .
AKU juga pernah berselingkuh. Aku dinikahkan waktu masih muda, dengan lelaki paruh baya yang saban hari berkutat di bengkel lasnya. Lalu aku bertemu pengelana yang singgah dari bandar ke bandar. Suatu malam kami dipergoki, padahal waktu itu kami hanya berbaring di rerumputan bukit. Sejak itulah aku terusir….
 .
HARI itu tiga kali ia bertemu dengan perempuan yang sama. Pertama, ketika ia menuruni jalan berundak-undak memotong perbukitan di tengah rumah-rumah beratap nyaris datar. Waktu itu perempuan itu keluar dari pintu di tembok pagar, menoleh sekilas ke arahnya, lalu menuruni jalan. Kedua, di pintu art shop dekat pantai di bawah perbukitan. Ketika itu angin menderap, dan pasir di trotoar gemerisik di bawah sepatunya. Ketiga, di teras kafe waktu senja, ketika ia menyesap secangkir kopi di tengah debur ombak dan koak camar.
Waktu itu perempuan itu berjalan ke arahnya.
“Maaf….” Perempuan itu duduk, begitu saja.
“Aku baru mendengar cerita yang aneh, dan ingin cepat bercerita,” kata perempuan itu.
“Kenapa memilih aku, untuk mendengar cerita?”
“Entahlah. Kau bukan penduduk pantai….”
“Bukan. Aku pelancong yang singgah,” katanya.
Ketika itu matahari hampir tergelincir ke dermaga. Ada bilah-bilah cahaya di langit, berwarna kuning-pudar dan jingga di celah segumpal warna merah. Lalu ada kerlip berlian di muka laut, dan bayang-bayang yang menggantung di dermaga. Samar-samar angin meruapkan bau asin laut.
Ia memandang perempuan itu. Perempuan bertubuh ramping, kulitnya sangat bening, dengan mata setengah mengantuk dan bibir kering tapi merah. Perempuan itu juga bersuara serak.
“Apa yang perlu kudengar?”
“Ada hutan di perbukitan,” kata perempuan itu, “di atas rumah-rumah beratap nyaris datar. Kabarnya bunga-bunga bermekaran di hutan itu, tapi hanya tiga puluh hari dalam setahun. Bunga-bunga putih, yang sewaktu-waktu berubah ke warna merah….”
“Kenapa begitu?”
“Kabarnya, dulu ada peri mendiami hutan itu bersama kekasihnya, seorang pemburu. Lalu suatu hari si pemburu mati tertusuk cula babirusa. Jasadnya tertelan ke bumi, menyatu dengan akar-akar myrtle. Si peri, yang mendapat firasat buruk hari itu, menjelajah seisi hutan sampai kakinya tergores dan berdarah-darah. Waktu ia menemukan lembing kekasihnya, dan darah yang tercecer, ia pun menangis. Dan ajaib, bunga-bunga yang semula putih tiba-tiba berubah merah. Sejak itu, tiap bulan pertama musim panas, banyak pasangan kekasih yang datang ke hutan. Bercanda, tertawa. Dan jika ada pasangan yang patah hati, bunga-bunga putih akan berubah merah.”
Ia tertawa. Perempuan itu juga tertawa.
“Kau tak percaya?” tanya perem puan itu. “Atau, kau mau mencoba?”
“Tidak…. Eh, kau tak pesan minum?”
Teras kafe itu kosong. Hanya meja bulat dan kursi-kursi berjajar di lantai batu koral. Dari teras itu ia melihat perahu-perahu tertambat di dermaga, naik-turun terantuk ombak. Lalu perahu-perahu dan sekunar di lepas laut, yang mulai mendekat ke dermaga. Ada juga potongan tebing di sisi kiri, seolah menyeruak dari kilau air. Lalu ada deretan bangunan tiga-empat lantai berwarna pasir.
Langit sudah berubah abu ketika ia bangkit dari kursinya.
“Kau sudah mau pergi dari pantai?” tanya perempuan itu. “Bisakah kita bertemu nanti malam?”
Ketika itu lampu-lampu di teras kafe mulai menyala. Lampu-lampu di dermaga juga menyala. Angin menderas dari laut, yang berangsur-angsur gelap.
Ia tak jadi pergi. Lalu mereka berjalan di sekitar dermaga. Pantai itu tenang, meski debur ombak seolah ketukan ribuan batu di telinganya. Jendela-jendela kedai dan art shop, yang berderet sepanjang pantai, melontarkan cahaya kekuningan ke trotoar. Ia melihat sosok-sosok di trotoar—dan ada seorang pelari di tepinya. Dari dermaga, kelihatan gelap merentang di perbukitan, dan ada bintik-bintik lampu dari rumah-rumah beratap nyaris datar. Langit bersih, tapi malam itu angin agak kencang.
Perempuan itu berkata, “Kau mengingatkanku pada seseorang.”
“Siapa?”
“Aku tak ingat….”
Tapi ia tak percaya perempuan itu tak ingat. Agak malam mereka baru menaiki jalan berundak-undak. Kabut mulai mengurai, dan bulan membakar lubang keabuan di langit. Malam itu, di kamar perempuan itu, mereka bergelut. Tapi setelah beberapa saat ia sadar mereka tak menutup gorden jendela. Atau mereka sengaja membiarkan gorden terbuka, hingga cahaya bulan jatuh ke dinding dan lantai. Ada senyap yang ganjil di kamar itu, yang mengalir—meski mereka terus berbisik.Ada kata atau suara, tapi terjerat senyap—dan perlahan ia mencium anemone menyelinap ke harum bantal.
Pagi, ia bangun ketika perempuan itu masih terlelap. Pagi itu ia mengitari kamar yang sebetulnya paviliun, sampai ia tiba di jendela bergorden. Dan ia melihat perempuan itu duduk di ranjang, dengan selimut menutupi pinggang.
Perempuan itu memberi kode, lalu melambai….
Ia kembali ke pantai itu. Hari ini, setahun kemudian. Tapi ia tak menemukan perempuan itu di paviliun, di salah satu rumah di perbukitan. Barulah ia tahu perempuan itu juga pelancong, seperti dirinya. Ia juga singgah ke art shop dekat pantai—yang sudah kosong berikut bangunan-bangunan tiga-empat lantai di kiri-kanannya. Tetapi kafe itu masih ada. Dan ia masih melihat perahu-perahu dan sekunar di lepas laut. Masih mendengar debur ombak, koak camar, atau angin yang menderas. Atau melihat gumpalan merah dan bilah-bilah cahaya di langit, berwarna kuning-pudar dan jingga.
Di sanalah ia sekarang. Duduk di kafe, dan memandang ke dermaga. Saat ini ada dorongan untuk berjalan-jalan ke dermaga, untuk sekadar menyimak keciprat air atau suara perahu mengetuk-ngetuk tepi dermaga. Atau sekadar memandang ke rumah-rumah beratap nyaris datar di perbukitan, dengan bintik-bintik dan pendar lampu. Tapi hujan baru saja reda.
Eh, apakah perempuan itu punya nama? Satu-satunya yang ia ingat, setahun lalu perempuan itu memberi kode: namaku Eta….
Tetapi ia berpikir, apakah malam ini bunga-bunga di perbukitan akan berubah ke warna merah?
 .
AKU juga pernah punya kekasih, jauh hari sebelum aku dinikahkan. Kami tak direstui, dan terpaksa lari dan terasing di sebuah hutan. Kekasihku mati tertanduk babirusa waktu berburu. Aku bahkan tak menemukan jasadnya. Tetapi sekali ini, apakah aku akan mendapat kesempatan kedua….
 .
WAKTU ia terbangun, di apartemen itu hanya lengang, lengang yang pejal. Ranjang yang acak. Langit-langit buram. Dinding buram. Cahaya buram. Lantai yang buram.
Tapi di bibirnya masih ada rasa bibir perempuan itu. Tubuhnya masih menyisakan bau kulit perempuan itu. Seperti bau kaktus, atau getah daun. Seperti embun, atau campuran aroma bunga, atau guyuran musim panas. Tetapi waktu ia terbangun, perempuan itu tak ada di ranjang.
Dan ia teringat ketika perempuan itu menyentuh rambut-rambut halus di tengkuknya. Lalu melingkarkan lengan, dan melekatkan tubuh padanya. Ia teringat ketika perempuan itu menggeliat, sedikit berguling, dan tersengal. Secara naluriah, ia meraih kaki perempuan itu. Ia tak menyentak, atau bergerak terlalu cepat, tapi diam pada beberapa jeda dan perlahan mulai menemukan arah. Dan mereka bergelut seakan waktu mengempas, dalam cahaya terpetak-petak di ranjang. Mereka bergelut seolah menguapkan ruang, kenangan buruk, atau mungkin sebentuk realitas.
Lalu mereka sedikit menjauh. Punggung perempuan itu melengkung, seolah menahan getaran yang menggumpal. Getaran yang sama membuat matanya mengabut. Ia lalu menengadah, dan merasakan suara hujan di bawah jendela. Ia menengadah, dan mendengar suara roda mencipratkan genangan air ke pinggir jalan di luar jendela.
Setelah itu…. Setelah itu waktu yang tak berbatas menyurut, dan garis-garis tegas terbentuk. Tapi ia tak mau bangun. Ia ingin berbaring lebih lama, sampai matahari menguak—karena malam yang lambat dan pagi masih jauh. Di sampingnya perempuan itu menggeliat. Perlahan mulai menyapukan lidah….
Baru ia sadar, semalam ada cahaya di atas ranjang. Ada pohon tak berdaun di luar jendela, dengan ranting-ranting serupa pembuluh darah. Ada bulan buram yang berkubang di langit hitam. Perempuan itukah yang telah menutup tirai?
Ia bangun, dengan melilitkan selimut ke pinggang. Lalu menarik tirai. Cahaya berebut menyerbu ke ruangan itu, dan ia melihat patung di tengah ruangan. Patung perempuan telanjang sebatas pinggul. Kepala patung itu menengok ke kanan. Sedikit menunduk, rambut terurai, dengan sorot mata yang lembut dan mulut mengatup. Punggung patung agak melengkung dan bahunya menekuk. Lalu satu tangan menutup dada dan tangan lain menutupi pinggul.
Patung itu adalah replika perempuan yang semalam tidur di ranjang.
Ia menatap lebih lama. Ada seorang perempuan yang lima hari terakhir datang ke apartemennya. Perempuan yang ia temui di teras kafe waktu senja. Ia masih mengingat dengan jelas. Ketika itu cahaya baru melepas selimut jingga ke langit kota. Awan menggantung rendah. Ketika itu di pelataran depan kafe, beberapa merpati terbang dan hinggap. Angin menggetarkan pohon, dan mengembuskan daun kering ke pergelangan kakinya. Sedan yang lewat mendentumkan conga dan timbal dari balik jendela. Tapi angin juga mengangkut daun-daun ke tengah pusaran di bawah lampu-lampu jalan, berputar dua kali sebelum menyeretnya pergi.
Senja itu ia melihat perempuan itu, yang duduk tiga meja di depannya dengan chocolate croissant. Perempuan bertubuh ramping, kulitnya sangat bening, matanya setengah mengantuk, bibirnya kering tapi merah.
Lalu setelah beberapa menit ia pindah ke meja perempuan itu, dan berkata bahwa ia pematung.
“Aku sedang mengerjakan patung yang tak kunjung selesai,” katanya. “Kau mau menengok ke studioku? Atau kau mau menjadi model?” Perempuan itu diam beberapa jenak, mengamati dua merpati yang hinggap di satu meja. Lalu ada getar halus pada suara itu, waktu perempuan itu mengangguk.
Esoknya perempuan itu datang ke apartemennya. Apartemen bergaya kuno, dengan jendela panjang berkotak-kotak dan ubin Gustavino yang juga merangkap studio. Selama lima hari perempuan itu datang pada jam yang sama, tapi hanya tinggal selama satu jam. Hari pertama ia menuntun perempuan itu pada beberapa pose, sambil membuat coretan-coretan di kertas. Hari kedua ia meminta pose-pose yang lain. Hari ketiga perempuan itu pulang agak larut, tapi ia mulai mengerjakan kerangka dasar dari coretan-coretan di kertas. Hari keempat, struktur patung mulai terbentuk, dan ia meminta perempuan itu duduk di kursi tanpa sandaran—dengan kepala menengok ke kanan, agak membungkuk, satu tangan menutupi pinggul dan tangan lain menutup dada.
Tetapi mereka melewatkan tiap pertemuan itu tanpa bicara. Ada keheningan yang lalu membuat tuli, yang membungkus atmosfer di apartemennya–dan hanya disela tarikan napas, bunyi batuk, atau pensil menggores-gores di kertas. Keheningan yang merayap, dan pada satu titik apartemen itu terasa lebih dingin, dan ia menangkap tetesan-tetesan air ke baskom dalam jeda yang ganjil. Perempuan itu tak pernah bicara, tapi mengangguk waktu ia menerangkan soal patung telanjang. Perempuan itu juga tak bicara ketika ia meminta beberapa pose, yang nyatanya terus berubah. Perempuan itu juga tak bicara ketika ia mulai menyentuh leher, pundak, dada, dan pinggang. Ia menyentuh dengan lembut, seolah meraba tiap respon ototnya sebelum meremas-remas adukan gips yang basah.
Kadang ia berpikir perempuan itu memang tak mau bicara. Ia hanya tahu perempuan itu bernama Eta. Lalu pada hari kelima, tiba-tiba perempuan itu menyentuh tengkuknya, melingkarkan lengan dan melekatkan tubuh padanya. Waktu mereka bergelut di ranjang, barulah ia tahu perempuan itu bersuara serak.
Ia masih di depan patung itu. Tapi patung itu belum selesai. Ia masih harus memoles beberapa bidang atau lekukan. Mulai dari garis rambut, lengkung hidung dan mulut, tekstur leher dan punggung, bentuk pundak, jari-jari tangan, bulatan dada, cekungan pinggang….
Tapi ia tak tahu apakah perempuan itu akan datang hari ini.
 .
AKU mengenal seorang pematung yang jatuh cinta pada patung pahatannya. Patung dari batu pualam itu diberi nama: susu….
 .
LALU ia seolah menembus warna putih yang pekat. Seperti kabut, yang menggumpal-gumpal. Kabut yang merayapi dan mengaburkan kaca. Kabut yang memadat dan berbulir, sebelum meninggalkan bercak. Ia mendengar angin mengepak. Detak jam yang keras, seperti tongkat mengetuk di trotoar. Lalu ia seolah menginjak permukaan yang tak rata, tersaruk-saruk melewati tonjolan atau lekukan. Kadang langkahnya tergagap, seperti berdiri di bidang yang basah. Matanya berkedut. Ia menarik napas, tapi gagal menetapkan arah. Beberapa kali ia menubruk sesuatu, yang mendadak muncul atau menyimpang di depannya. Ia tak bisa melihat, tapi sejak awal ia tak merasa tersesat. Lalu ia hanyut dalam keheningan, pada pendar cahaya halus yang bergoyang-goyang di tengah desau angin, atau napas terputus-putus yang berulang.
Mungkin keheningan, atau kekosongan, adalah semacam iluminasi dari kenyataan—baginya.
Lalu ia melihat nyala lilin. Cahaya kuning-pucat yang berderit. Lilin itu bergetar meredup dan menyala seolah mengusik gelap. Keheningan juga menyelusup ke bilah api, tapi bilah api terguncang dan lelehan lilin membelok ke dalam cawan. Ada suara meretih, seperti gerit pada lantai kayu papan. Ada kilasan angin, dan pada beberapa detik ia kehilangan satu-dua derajat suhu tubuhnya.
Terakhir, ia melihat badai pasir mengamuk di gelas bir. Lalu ia melihat buih mendesis pada gelas separuh terisi.
Pagi itu ia bangun di sebuah ruang yang putih-hitam, dalam gradasi hitam. Ada jendela memanjang ke samping, dengan kaca-kaca gelap dan bingkai hitam. Ada langit-langit putih mendatar, dan cermin yang memantulkan patahan dan isi ruang: dipan hitam, seprei putih yang acak, jambangan dengan bunga-bunga bergaris hitam, sisa kertas berserakan dari keranjang….
Tetapi waktu ia bangun, perempuan itu sedang mengusap-usap ujung rambutnya.
“Kau akan mengingat usapan ini, ruang ini, cermin itu… namaku Eta!” (*)
 .
.
Wendoko telah menerbitkan, antara lain, buku-buku puisi Oratorio (edisi kedua, 2011) dan Selected Poems (2010).
.
.

Bukit Mawar

Cerpen Yanusa Nugroho (Kompas, Minggu 29 April 2012)
Namanya Arjuna. Laki-laki, kurus, bujangan, 45 tahun-an. Ada yang memanggilnya ”Mas Ar”, ada juga yang memanggilnya dengan ”Kang Juna”. Siapa yang benar? Kurasa dua-duanya benar, karena Arjuna hanya tersenyum.

Ketika ada yang penasaran mengapa dia diberi nama Arjuna, laki-laki itu hanya tersenyum ramah. Lalu, biasanya, dia akan melanjutkan dengan suaranya yang ragu dan sedikit gemetar bahwa itu pilihan ibunya. Ibunya hanya penjual bunga di makam.
”Apa ibu sampean penggemar wayang?” ada saja yang bertanya begitu.
”Saya tidak tahu. Dan saya juga tidak tertarik untuk bertanya,” jawabnya seperti biasa.
Arjuna juga tidak setampan yang dibayangkan banyak gadis; paling tidak itu yang dialaminya dulu ketika masih remaja. Wajahnya berkesan layu, apalagi dengan rambutnya yang lurus tipis dan selalu berantakan. Belum lagi ada beberapa bopeng bekas cacar semasa bocah, maka Arjuna sangat jauh dari bayangan kegantengan pemuda idola.
Dia sahabat sepermainanku, sejak masa belum sekolah, kemudian taman kanak-kanak, ngaji bersama, sampai kelas 3 sekolah dasar. Setelah itu, kami terpisahkan oleh nasib orangtua kami. Maksudku, aku terpaksa pindah ke Jakarta dan dia tetap di sana. Akan tetapi, nasib pula yang mempertemukan kami di tempat ini. Aku tinggal di dekat Bogor, dan ketika aku dan istri iseng-iseng mencari tanaman untuk rumah baru kami, aku dipertemukan dengan Arjuna.
Begitulah, tanpa upacara, nyaris tanpa kata, aku bertemu dengan Arjuna, yang masih kurus, layu dan wajah berbopeng luka cacar. Namun sejak itu—dua tahun lalu—aku sering bertandang ke kediaman sekaligus kebunnya.
***
Arjuna dan mawar memang tak terpisahkan. Maksudku, Arjuna adalah sahabatku, dan siapakah mawar? Bukan siapa-siapa, karena memang bukan manusia, tetapi tanaman. Mawar kampung.
”Kenapa?” tanyaku, suatu kali.
”Apanya yang kenapa?” jawabnya sambil membuat wadah dari sabut kelapa dan pelepah pisang untuk bibit. Tangannya sangat terampil menciptakan wadah-wadah sederhana itu.
”Mawar. Kenapa bukan Anthurium, atau Anggrek Hitam, misalnya?”
”Sudah pernah dan ketika anthurium merajai pasaran, aku bisa beli tanah ini, seluas ini,” ujarnya datar saja, tetap berkonsentrasi pada pekerjaannya. Kupandangi tanah seluas seribu meter persegi di tepi jalan itu. Ada patok-patok kayu.
”Mereka mau membangun mal,” ucapnya dingin.
”Maksudmu?”
”Mereka memaksaku untuk menjual tanah ini dan membangun mal di atas lahan ini.”
”Hmm… kalau harganya bagus, kenapa tidak dilepas.”
”Harganya bagus. Tapi aku tidak mau melepas.”
”Kenapa?”
Dia diam, menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan sedikit kesal. ”Lantas di mana aku menanam mawar-mawarku?”
***
Sepulangku dari kediaman Arjuna, aku tak bisa tidur. Aneh, manusia satu itu. Kuperkirakan, dia bisa mengantungi sedikitnya dua miliar; dengan luas dan posisi dekat jalan raya, dan dengan uang itu dia bisa membeli tanah yang lebih luas…lebih daripada cukup kalau untuk menanam mawar kampung! Gila.
Tapi, entah mengapa, aku diserang rasa gelisah. Ada yang begitu murni, bodoh—mungkin—dan rasa cinta yang tulus, ketika dia mempertanyakan di mana akan menanam mawarnya. Ah, jangan-jangan aku sudah tertular penyakit gila yang dideritanya. Sangat tidak masuk akal. Sangat bodoh.
***
Beberapa bulan berlalu, aku tidak main ke rumahnya. Mungkin karena jengkel, mungkin juga karena merasa berhadapan dengan orang sinting, aku tidak berminat menemuinya. Tapi, mungkin juga karena aku memang ditelan kesibukan pekerjaan. Aku harus mengawasi proyek, yang kadang-kadang membuatku berhari-hari di luar kota. Ketika pulang pun, aku hanya bisa bertemu dengan kesunyian rumah dan si Min, pembantu kami, karena istriku pun ditelan kesibukan kantornya, dan saat itu dia di Makassar.
”Dua hari yang lalu, ada orang ke rumah, nyari bapak…” ujar Min sambil membongkar tasku.
Aku diam, mencoba menikmati kehampaan yang tiba-tiba menganga ini. Kusimak pembicaraan Min dan aku tahu bahwa orang itu pastilah Arjuna. Apalagi ketika kutanyakan apakah di wajahnya ada bekas bopeng cacar dan Min mengiyakan sambil tertawa, aku yakin, orang itu pasti Arjuna.
”Keberatan nama Pak, Arjuna, kok, nyekingkring.” tambahnya sambil tertawa geli sendiri.
”Ada pesan apa?”
”Ndak ada…dia cuma bilang, ’o, ya, sudah’…terus pulang.”
***
Lama setelah itu, aku masih saja belum sempat menemui Arjuna. Aku mau telepon, tapi seingatku, dia tak pernah memberiku nomor HP. Manusia primitif satu ini memang istimewa sekali.
Sementara itu persoalanku sendiri dengan Andin—istriku—muncul lagi. Persoalan yang sebetulnya sudah bisa diduga dan diurai dengan mudah, tapi, sekali lagi, emosi dan tenaga kami habis disedot pekerjaan. Siang dan malam hanyalah soal terang dan gelap belaka. Rumah berkamar tidur dengan pendingin udara, bahkan bukan sebuah kesejukan di rumah kami. Kami adalah dua orang yang saling bermusuhan diam-diam dan menyembunyikan diri di balik laptop atau BB, untuk saling …entahlah. Aku bahkan kehilangan semua kosakata, dan anehnya dia yang dulu terkenal bawel—dan itu yang membuatku jatuh cinta—kini lebih bisu daripada batu.
Aku sendiri sudah tidak tahu lagi, sudah berapa jauh jarak kehidupan cinta kami terentang. Sejak kapan hal itu dimulai, kurasa dia pun tak punya jawaban. Yang ada hanyalah kami harus punya foto perkawinan yang bahagia, senyum manis tak terkira dan handai taulan, sanak saudara, kenalan, relasi, bos menganggap kami manusia bahagia yang patut dijadikan contoh.
Beruntunglah Arjuna, barangkali dia tidak menemukan neraka itu di rumahnya, karena dia hanya mengikatkan diri pada mawarnya.
***
Siang itu di proyek, yang kurasakan adalah tusukan sepi yang luar biasa. Di kantin, ketika makan siang, mataku tertuju pada televisi yang menyiarkan peristiwa. Ah, ini membuatku kian merasa terpuruk menjadi manusia; apa sebetulnya yang ingin kucari? Protes, demo, penembakan oleh aparat, korupsi, artis dilecehkan, wartawan dan pelajar saling jotos, guru menggampar murid, murid membunuh guru…; coba sebut satu saja yang mampu memberikan harapan hidup lebih baik.
Tapi, ketika seorang penyiar menyebut satu nama—sambil sedikit tersenyum, aku seperti tersengat lebah. Arjuna jadi berita. Ah, pastilah kasus tanahnya. Ah, bagaimana dia? Kusimak berita, tapi tak kulihat si Arjuna. Hanya ada massa yang kulihat mendukung Arjuna—di halaman Kantor Pengadilan Negeri.
***
Entah mengapa, berita tv siang itu menggangguku; paling tidak, telah berubah menjadi semacam isu di antara kami. Sambil makan malam bersama kolega bisnis properti dan beberapa investor, percakapan tentang Arjuna menjadi bagian dari menu malam itu. Aku tentu saja harus bersama Andin, yang sejak semula harus merasa bahagia bersamaku.
”Andin, coba kalau kamu punya tanah seluas itu dengan harga jual yang sangat bagus—di atas NJOP di wilayah itu—kamu bertahan?” ucap bosku sambil menyuapkan potongan steik ke mulutnya.
Andin hanya tersenyum saja, menjawab tanpa jawaban. Sempat kulirik senyumnya. Masih senyum yang dulu kukenali dan kusukai. Sesaat kemudian pandangan kami bertemu di suatu sudut yang dulu pernah kami singgahi; sudut kecil saja di kenanganku—paling tidak.
”Kalau saya, maaf, tanah itu tidak akan saya jual…” entah mengapa, aku tiba-tiba seperti didorong oleh tenaga aneh, meloncat begitu saja dari mulutku.
Meja makan seperti tersiram es. Aku tahu, tak seorang pun boleh membantah ucapan bosku, karena dia adalah bos.
”Mmm…bukan itu jawaban yang aku harapkan, apalagi dari kamu. Tapi, …mm…tolong, buat aku bisa memahami ’kebodohan’ yang…” dia menebar pandangan kemudian tertawa, diikuti orang semeja. Kulihat Andin salah tingkah.
”Mmm…(aku menelan ludah)…maksud saya, saya paham pada apa yang dilakukan Arjuna…”
”Ooo, jadi kamu kenal juga dengan si Arjuna?” sela bosku, yang melanjutkannya dengan gelak tawa.
”Mmm…ya, Pak. Dia sahabat sepermainan…”
”Maaf…bilang sama Arjuna, dia boleh saja menikmati kemenangannya kali ini. Tapi itu tidak lama…”
Di perjalanan pulang, aku membisu. Andin membeku. Entah mengapa, aku merasa tiba-tiba menjadi ancaman bagi Arjuna.
Entah mengapa, tiba-tiba Andin membuka pembicaraan yang membuatku merasa kian bodoh. Bermula dari celaannya tentang mengapa aku tiba-tiba berkomentar tentang pertanyaan yang bahkan bukan untukku, sampai sebuah hubungan antara kantorku dengan Arjuna yang selama ini sama sekali tak kusadari.
”Makanya, jangan asyik sendiri. Jelas sekali, siapa pun tahu kalau kantormu itu gurita dengan sejuta tentakel. Terus mau apa? Demi Arjuna dan mawarnya itu, kamu mau apa?”
Aku diam. Aku hanya ingin sampai di rumah.
***
Sejak peristiwa makan malam itu, aku jadi makin kehilangan kegembiraan bekerja. Semua perhatianku, bahkan mimpiku, tersedot pada Arjuna dan mawarnya. Dan entah mengapa, di mata bosku, aku seperti duri dalam daging. Kusadari semuanya tanpa perasaan apa-apa. Kuterima semua penilaian atas dedikasiku selama ini, dari bosku, dengan jiwa kosong. Aneh juga rasanya, tapi itulah yang kualami. Termasuk ketika bos menawariku posisi lain di salah satu perusahaannya yang lain—untuk menghilangkan ’duri’ yang ada di ’daging’-nya, aku menolak dengan halus. Aku memilih duduk di samping Arjuna yang tenang membuat wadah-wadah sederhana dari tapas kelapa dan pelepah pisang.
***
Itulah yang kulakukan. Dan ketika aku sampai di rumah Arjuna, aku dibuat terperangah. Rupanya, selama ini, ketika proses pengadilan berlangsung, pihak ’pembeli’ bahkan sudah membangun bangunan, memang belum finishing, tapi bangunan itu sudah berdiri. Ya, Tuhan, sudah berapa lama aku tidak berhubungan dengan Arjuna?
Dan bangunan itu, oleh Arjuna sengaja tidak dihancurkan. Orang gila satu ini memang selalu aneh-aneh. Dia bahkan menggali tanah di sekeliling bangunan belum jadi itu dan menguruk seluruh bangunan itu hingga menjelma bukit. Bukit tanah merah yang dikelilingi parit dalam.
Kusaksikan orang-orang kampung yang mendukung tindakan Arjuna di pengadilan sibuk melakukan ini-itu. Kami duduk di tanah menatap ’bukit’ yang baru lahir itu.
”Apa yang akan kamu lakukan dengan bukit ini?”
”Bayangkan, Tom. Ini nanti akan jadi bukit mawar. Seluruhnya aku tanami mawar kampung.”
”Seluruhnya?” dan kudengar Arjuna tertawa bahagia. Kemudian dia menyambung bahwa parit yang lebar dan panjang mengelilingi bukit ini akan jadi lahan pemancingan, yang mengurusi nanti adalah–dia menyebutkan beberapa nama yang kuduga orang kampung situ.
Sambil membayangkan di sana-sini muncul warung makan kecil, dan orang-orang makan ikan bakar, atau sekadar minum kopi, mereka menikmati ”keajaiban dunia”: bukit mawar. Arjuna bukan hanya membangun keajaiban, bukan juga membangun mimpi, tetapi harapan bagi orang banyak. Aku jadi kian merasa tak ada apa-apanya berhadapan dengan anak janda penjual bunga di makam ini.
”Terima kasih, kamu mau datang,” ucapnya dengan senyum mawarnya. ”mmm…ngajak mbak Andin, ya…”
Andin menyusulku? Dan kulihat Andin gembira, gelak tawanya lepas, seperti murai yang berkicau di pagi hari, dia pun mengoceh dan mengoceh. Aku terkunci dalam kebingunganku sendiri.
”Aku suka ini. Aku gembira ada yang bisa memutus rantai kebekuan. Dan aku bangga, kau pun melakukan itu.” Ucapnya dengan wajahnya, yang—ah, kenapa jadi cantik sekali?
”Aku tidak melakukan apa-apa…”
”Kau keluar dari gurita raksasa, itu adalah sebuah perbuatan gila, sinting, tapi benar. Dan…aku bangga bahwa aku masih punya seseorang yang mau berbuat benar.”
”Meskipun gila?” godaku.
”Plus sinting dan nekat,” tambahnya diikuti gelak tawa.
***
Setelah dia jelaskan apa yang akan dilakukannya dengan bukit itu, dia pun merangkak memanjat bukitnya. Di tangan kanannya tergenggam sebatang mawar.
Sebuah ritual pun dimulai.


Sabtu, 28 April 2012

Pelajaran Bercinta

Cerpen Benny Arnas (Suara Merdeka, 15 April 2012)




Palung  
Rinduku adalah dekap buku pada pembatas halaman, tepat pada bab perjumpaan paling dahsyat di dunia.

Aku sangat yakin kalau kau memiliki perasaan yang sama terhadapku walau mungkin kau memiliki cara yang berbeda dalam mengungkapkannya. Oh, jangan-jangan aku tengah tergores oleh tajamnya kata-kata penantian? Ya, aku masih ingat sekali kata-katamu dulu, tepat beberapa hari setelah kau menyatakan cinta kepadaku. Kau nyaris terluka oleh sebilah penantian yang kuasah. Kau juga tak cukup kuat diombang-ambing ketakpastian. Padahal aku hanya ingin menunjukkan, bahwa perjuangan memetik setangkai wijayakusuma yang mekar tak ada apa-apanya dibanding dengan ujian kesabaran menunggu kelopak-kelopaknya merekah di bawah bayang rembulan. Ah, rasanya aku terlalu berlebihan kala itu. Tapi, aku pikir, tidak apa-apa untuk mengetahui seberapa tangguhnya kamu—walau aku tak yakin kalau aku akan baik-baik saja bila kau meralat perasaanmu.

Kini, aku percaya kalau penantian dapat mengecambahkan rasa senang yang menyebalkan. Aku dapat memaklumi ketaknyamanan yang menghinggapimu; kau memang tidak memiliki cukup alasan untuk mencemburuiku kala itu, bukan? Ya, apalah hakmu melarang orang lain memetik bunga yang tumbuh di tanah yang bukan milikmu? Apalah hakmu mencemburui seorang perempuan yang belum menerima cintamu?
O, maafkan aku, Batang.
Untunglah ada Bunga! Ya, karib kita yang namanya secantik perangainya itu, tahu benar bahwa aku telah dipilih Tuhan untuk serentetan ujian yang tidak semua orang mendapat kesempatan untuk menjalaninya. Ya, kau mengabarkan perpisahan lewat Bunga tepat ketika Tuhan tak sabar lagi memeluk kedua orangtuaku selama-lamanya. Aku tahu, tidaklah mudah baginya untuk memegang rahasia yang meremukkan hati sahabatnya.
“Kita sama-sama wanita, Palung. Karena itu aku berusaha menjadi dirimu kala musibah itu menghantammu. Ponselmu yang berdering di atas meja ruang tengah, refleks kucangking ketika mengetahui Batang menghubungi. Tentu, aku tak sempat berpikir untuk mempersilakan Batang berbicara kepadamu pada saat kau meraung hebat di hadapan kedua orangtuamu yang terbaring kaku. Kau tahu, kala itu Batang mengira kaulah yang menjawab panggilannya. Nada suaranya sangat gembira saat mengabarkan penugasan yang baru diterima. Ia harus mendadak pergi ke beberapa negara Afrika untuk jangka waktu yang tidak ditentukan, Lung. Aku belum sempat mengatakan apa-apa ketika Batang memintamu melepas kepergiannya di bandara malam itu. Bibirku seolah tak berdaya untuk mengatakan apa pun saat itu. Menurutku sangat tak mungkin kau pergi di malam orang-orang berkumpul mengirimkan doa untuk kedua orangtuamu. Aku hanya menangis saat itu. Aku pikir Batang menerjemahkan isakanku sebagai keterharuanmu atas kabar gembira itu. Maafkan aku, bila kaupikir aku lancang, Lung….”
Sungguh, aku bagai sakura yang menolak luruh di musim gugur. Nyaris saja aku muntab bila akal sehatku menolak bekerja. Kucerna lamat-lamat penjelasan Bunga. Aku mencoba tegar di tengah hantaman ujian yang bertubi-tubi. Bunga menyampaikan semuanya beberapa hari setelah kau pergi. Aku yakin ia belum tentu akan menceritakan semuanya bila tak mendapatiku merutuki ketakpedulianmu (aku tak habis pikir bagaimana bisa kau tak hadir ketika kekasihmu dirundung duka!).
Ah, sudahlah!
Kini aku bahkan sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Bunga. Kau tahu, ia bahkan sempat mengungkapkan kekesalannya terhadapmu. Ia menyebutmu keterlaluan karena mengabarkan perpisahan pada hari yang sama dengan kepergianmu. Ah, untung saja kujelaskan kepadanya bahwa sebenarnya kita sudah membincangkan bahkan mendebatkannya cukup lama. Tapi memang aku tak menyangka kalau penugasanmu begitu tiba-tiba, datang pada waktu yang salah… (walau aku tahu bahwa kau tak tahu apa-apa tentang musibah yang menimpaku hari itu).
Kini, Bunga seolah menjadi belahan jiwaku. Hmm, maksudku, sahabat yang mengerti kelebihan-kekuranganku. Bahkan kami sudah tinggal serumah. Beberapa waktu setelah peristiwa duka itu, ibunya menawariku tinggal di rumahnya. Kau tahu ‘kan kalau kami sama-sama anak tunggal? Maka sejak saat itu, ibu Bunga adalah ibuku juga. Aku tak membutuhkan waktu lama untuk menjadi bagian hidupnya. Bahkan hari-hariku kembali ceria seolah taman bunga yang selalu diciumi gerimis kala pagi dan sore menyambangi. O ya, di waktu-waktu tertentu, bila kerinduanku kepadamu memuncak, Bunga Raya sangat pandai membuat airmataku tak keluar dari peraduannya. Ia bahkan mengatakan, alangkah beruntungnya kau memiliki kekasih yang setia sepertiku. Hmm, maksudku keberuntungan itu sama seperti keberuntunganku mendapati kekasih tampan, gagah, dan bertanggungjawab sepertimu.
“Sekarang ini, tak banyak lelaki yang berminat jadi tentara, Lung. Bahkan ada yang menjadikannya pelarian terakhir ketika sejumlah pekerjaan gagal dilakoni. Jangan heran kalau jiwa nasionalisme dan patriotisme sudah jarang dimiliki warga negara karena tentara saja banyak yang menghindari tugas di daerah konflik. Nah, Batang adalah pengecualian. Kalau kepada Tanah Air-nya sendiri ia sudah sebegitu setianya, apalagi kepadamu, Lung?”
Nah, Kekasihku Batang, tentu lima tahun bukan waktu yang singkat untuk memelihara cinta agar tetap rekah dan semerbak wanginya, bukan? Tidakkah kita ingin membuktikan kesetiaan masing-masing? Ah, aku tak menyangka kalau di daerah konflik sana, kau masih memelihara kecakapanmu merangkai kata-kata indah. Sebuah puisi yang kaukirim lewat email pagi ini membuat kepalaku dipenuhi jutaan angan-angan tentangmu, Sayangku!
O, datanglah, Batang. Walaupun menikah di usia kepala tiga tak pernah masuk dalam perbincangan kita, tapi demi melihatmu bahagia—karena impian mengabdi atas nama negara tertunaikan, kupikir itu bukanlah hal yang layak dipermasalahkan.
Ah, Bunga harus segera tahu gembira ini!
 .
Bunga
Perjumpaan adalah ciuman hujan pada tanah yang kerontang oleh kemarau penantian.
Dapat kubayangkan, pertemuanmu dengan Batang akan meluapkan kebahagiaanmu, Lung. Sungguh, kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku pula. Bagiku cinta tanpa pengorbanan ibarat menggenggam air. Omong kosong belaka! Ah, tapi apakah orang yang berkorban demi cinta harus menyumbangkan semua kebahagiaannya untuk orang lain?
Dalamnya cintaku kepadamu umpama palung. Dan adalah bohong kalau saking dalamnya, palung tak memiliki dasar. Namun begitu, hanya kau yang tahu bagaimana menginjakkan kaki di lubuknya. Hanya kau. Hanya kau. Kau tahu, aku bagai lesap ke dasar kebahagiaan ketika dengan polosnya kaunyatakan aku sebagai belahan jiwamu. Sungguh, hampir saja aku mengira sebelah tanganku tak menepuk air di dulang bila kau tidak kerap membawa-bawa kerinduanmu kepada Batang dalam sejumlah pecakapan kita.
Sungguh, aku sangat iri (bila tak ingin dikatakan cemburu) ketika di sela-sela kehangatan kita, ingatanmu pada Batang serta-merta menguasai benakmu. Kauumpamakan kekasihmu itu sebagai pohon yang berkanopi lebar dan lebat. Pohon yang kerap kausandarkan untuk sekadar menyelonjorkan kaki sembari mecurahkan kekesalanmu pada suatu hari. Namun apakah kau tak pernah sadar, Lung. Kalau aku kerap bersembunyi di balik pohon besar itu. Aku tahu kau menganggap sepasang tangan yang memelukmu dari belakang adalah cecabangnya. O, tahukah kau, alangkah bungahnya aku ketika kerinduanmu kepada Batang kambuh, kau menjatuhkan kepalamu di bahu atau dadaku. Entah, apakah kau merasakan detak jantungku yang tergesa-gesa atau tidak, yang jelas kedua tanganku refleks menggamitmu dalam pelukanku seolah tak ingin kau cepat-cepat merenggangkan kehangatan.
Ya, aku sudah lama memendam perasaan terlarang ini kepadamu. Aku tahu teman-teman kita kerap memuji atau bahkan menyindir kesetiaanku pada kau dan Batang. Palung-Batang-Bunga memang tiga sahabat yang tak mungkin diceraikan, walau sebagian yang lain mencibirku sebagai gadis tua yang tak sadar diri. Begitulah yang sampai di mata-mata mereka. Begitulah yang kau dan Batang pikirkan. Oh, semua kulakukan karena aku tak sanggup jauh darimu, Palung Sayangku. Maka, ketika kabar penugasan Batang itu mengetuk gendang telingaku, sungguh bahagianya aku—apalagi belum ada kepastian (kapan) masa tugasnya berakhir.
Tuhan memang mencintai hamba-Nya yang pantang menyerah. Kepergian orangtua dan kekasihmu adalah momen yang paling tepat untuk mewujudkan semua mimpiku; memilikimu seutuhnya, Palungku!
Maafkanlah perasaan ini, wahai sahabat-sahabatku. Sungguh, aku tak tahu bagaimana kecenderungan ganjil ini tiba-tiba tumbuh di dalam diriku. Tentu aku tak ingin mengkambinghitamkan kekejaman Ayah kepada Ibu ketika aku masih kecil dulu. Hingga Ibu akhirnya meracuni Ayah di suatu pagi. Dan Ibu melakukan semuanya bukan karena ia membenci Ayah, tapi karena ia ingin membesarkanku tanpa bayang-bayang kebejatan Ayah. Aku tahu kalau saban Jumat petang, dengan alasan menghadiri arisan teman-teman lama di luar kota, Ibu kerap mengirim doa kepada Ayah di depan gundukan makamnya. Ibu adalah wanita yang sangat setia. Sungguh setia. Bagiku, tak ada perempuan yang mampu menyerupai kesetiaannya sebelum tiba-tiba kau hadir sebagai almamaterku, Lung.
Aku ingat sekali, kau menerima tawaran Batang untuk menjalin asmara dengannya di semester pertama. Menilik kegagalanku menjalin hubungan khusus dengan beberapa lelaki, aku tak yakin hubungan kalian akan bertahan lama. Aku bahkan mengira Batang akan mengkhianatimu sebagaimana sejumlah laki-laki brengsek yang mengecewakanku. Namun apa yang terjadi? Hingga kini, kesetiaanmu telah menginjak usia tiga belas tahun—termasuk lima tahun terakhir tanpa Batang di sampingmu. Ah, yang membuatku kesal adalah Batang tak kunjung mengabarimu setelah kepergiannya. Akun Facebook-nya serta merta menghilang, emailnya tidak valid lagi, hingga nomor ponsel yang tidak lagi digunakan. Ke mana akan kaulacak kebahagiaan itu, Lung?
O, tidakkah seharusnya kau bahagia dengan semua itu, Bunga? Bukankah itu artinya tidak ada lagi yang kuasa menghalangimu meraih hati Palung?
Tidak! Kini semua tidak sesederhana itu, tidak semudah itu, tidak sematematis itu! Kesetiaanmu kepada Batang telah memberiku pelajaran tentang arti mencinta. Cinta haruslah mengalirkan kebahagiaan ke samudera mana pun hingga sesiapa dapat merasakannya, termasuk kepada hatimu yang bersemayam di palung paling dalam di dunia ini. Ya, alangkah kejamnya bila harus kupaksakan ingatanmu tentang Batang menguap lalu menggantinya dengan segala hal yang berbau diriku. Ah, tentulah kebahagiaanku adalah nisbi apabila kau harus mati oleh tajamnya samurai penantian, wahai Palungku!
Rindukuku adalah getah yang merekatkan tangkai dengan bunga, tepat pada kelopak yang menguar aroma tubuhmu. Nantikan aku di hatimu, Sayang. Hanya dalam beberapa hari, aku akan memekarkan bunga warna-warni yang selalu kusiram dengan air paling jernih yang kuambil dari palung paling dalam di dunia ini.
Setelah kubuat email baru atas nama Batang, kugubah sekaligus kukirim puisi itu kepadamu. Aku tahu benar kalau Batang bukan sekadar gagah dan tampan. Ia juga romantis bahkan cenderung melankolis. Hmm, aku tak ingin kau mengendus tipu daya ini, Lung. Sungguh. Aku tak ingin melihatmu berlayar dalam kerinduan tak berujung, yang akan menenggelamkanmu dalam harapan yang tak menjanjikan kebahagiaan sedikit pun. Biarlah, biarlah kupikirkan bagaimana merangkai puisi baru yang akan segera kukirimkan kepadamu.
Puisi yang mengabarkan pengunduran waktu kedatangan Batang. (*)
 .
.
Jakarta, 2011
Benny Arnas lahir di Lubuklinggau, 8 Mei 1983. Buku kumpulan cerpen terbarunya adalah Jatuh dari Cinta (Grafindo, 2011).

Kuda

Cerpen A.S. Laksana (Jawa Pos, 15 April 2012)

PEREMPUAN itu menyebutnya kuda. Maka ia merasa dirinya sebagai kuda berbulu putih, kuda yang biasa ditunggangi oleh tokoh utama dalam film-film koboi: agak jinak, tapi pada saatnya bisa berlari tak kenal letih untuk menopang sang penunggang yang harus menyelesaikan tugas berat menghabisi para perampok dan lelaki-lelaki kasar. Ia menyukai gambaran diri yang seperti itu.

“Naiklah ke punggungku,” katanya.
Perempuan itu beringsut, merapatkan dirinya, seperti kucing menggesekkan bulu-bulunya  ke kaki majikan. Perempuan itu menggeseknya. Dan ia masih membayangkan dirinya sebagai kuda jantan, putih dan tampan, dan berderap menyusuri padang terbuka. Dengan empat kaki perkasa yang meninggalkan kepulan debu di belakangnya, ia menjelajahi rumput-rumput dan kerikil-kerikil tandus. Suara orang-orang di ruangan judi terdengar sayup-sayup. Di ruangan lainnya, ia berderap menjauh, mengangkut seorang putri di punggungnya, sampai hilang semua suara.
Dinihari ia meninggalkan tempat itu dan tidak muncul pada beberapa malam berikutnya dan baru datang lagi ke sana dua minggu kemudian. Itu kunjungannya yang kedua dan itu kunjungan yang celaka. Alit merasa bahwa rumah judi itu tidak menyenangkan ketika malam kian larut. Ada seorang pendatang baru yang masuk ke ruangan dengan lagak yang akan membuat matamu pedih. Orang itu mengenakan pakaian mewah dan ia sungguh tidak pas dengan pakaian yang dikenakannya. Beberapa orang yang menyertainya menunjukkan tabiat terkutuk. Ketika orang berpakaian mewah itu menyelipkan rokok di bibirnya, tiga orang berebut menyalakan korek api.
Alit berharap nyala korek api membakar bibir empal lelaki itu. Dan kemudian lelaki itu marah lalu menghantamkan apa saja yang dipegangnya ke paras para penjilat yang menyertainya. Itu akan menjadi tontonan bagus di arena judi yang mulai terasa tidak menyenangkan.
Lelaki itu penjudi yang baik dan ia segera membuat beberapa orang bangkrut. Lalu perempuan itu muncul, mengenakan gaun yang terbuka hingga ke bagian lembah kedua gunungnya, dan ia merangkul lelaki itu. Alit merasakan nafasnya berat. Perempuan itu menyebutnya kuda dua pekan lalu dan Alit kembali ke tempat itu tetap dengan membayangkan diri sebagai kuda, tetapi perempuan itu seperti tidak melihatnya.
Situasi peperangan merambat pelan-pelan di ruangan, merambat di dada yang sesak. Alit mendengar ringkik setan di telinganya. Ia ingin sekali menjambak perempuan itu atau menarik pakaiannya hingga perempuan itu telanjang bulat. Perempuan itu tampaknya bangga dengan gunung-gunung yang menjulang di dadanya, dan ia suka sekali menggeser-geserkan puncak gunungnya ke lengan atau punggung si lelaki kaya, dan jari-jarinya terus memijit bahu lelaki itu.
Itu bukan pemandangan yang baik bagi lelaki yang mulai bangkrut. Alit menyandarkan punggungnya pada dinding dekat lukisan sembilan ikan di kolam teratai. Lukisan jelek yang konon bisa mendatangkan rezeki berlimpah di ruangan itu. Ia merasakan semak-semak tumbuh di dadanya, ia merasakan rumput-rumput liar dan tanaman berduri menyakiti jantungnya. Mestinya ia keluar dari ruangan itu sebelum dada dan jantungnya koyak-moyak oleh ilalang dan duri-duri yang meliar di dadanya.
Namun ia bertahan, mencoba menenteramkan diri sendiri dengan membuka kancing atas bajunya. Ruangan itu pengap, sesuatu yang tidak dirasakan oleh Alit pada kunjungan sebelumnya, dan asap rokok membuat matanya pedih. Perempuan bergunung menjulang itu membuatnya semakin pedih. Dua pekan lalu perempuan itu menggelendot di dadanya. Malam itu ia bergelayutan di lengan lelaki empal. Dan Alit baru saja bangkrut. Kau tahu, lelaki yang bangkrut di meja judi harus mau menerima nasib terburuknya. Ia bahkan tak bisa berbuat apa-apa terhadap orang di depan mata yang berkhianat kepadanya.
Ia mencoba menenteramkan diri dengan pikiran sekenanya bahwa seorang pengkhianat memang akan selalu berkhianat. Ia lari darimu dan menusuk punggungmu justru pada saat kau bangkrut dan tak berdaya.
Angin dari baling-baling ruangan seperti menghembuskan panas yang menyiksa. Baling-baling besar yang berputar mengeluarkan suara berderit-derit. Alit ingin sekali menyeret perempuan itu dan menggantungnya di sayap baling-baling. Pengkhianat yang memedihkan mata, kau tahu, pantas diperlakukan apa saja.
Alit merasakan tarian serigala di pelupuk matanya, mungkin tarian para jahanam yang mengejeknya. Dan perempuan itu terus menyakiti. Ia memperlihatkan gerak-gerik mesum di depannya. Tetapi Alit mungkin keliru. Jika kau ada di antara mereka, kau akan tahu bahwa sebetulnya perempuan itu nyaris tidak bergerak sama sekali. Ia hanya menggelendot, membelit lengan si pemenang, lelaki kaya yang lagaknya tidak pantas, tetapi Alit telah menafsirkan gerak semacam itu sebagai gerak-gerik mesum yang mengejek kebangkrutannya.
Lelaki yang bangkrut, kautahu, sering membangun dunia yang muram. Sementara perempuan itu bertindak praktis saja; ia tidak peduli pada lelaki yang bangkrut. Ia nyaris tidak pernah mengangkat muka. Alit berharap perempuan itu mengangkat muka dan mereka akan saling bertatapan, mungkin sedetik, dan ia akan melemparkan pandangan yang paling menghina kepada perempuan itu. Mungkin ia akan meludah ke lantai dengan ekspresi berlebihan saat mereka saling bertatapan.
Begitulah, di kepalanya berlangsung segala rencana. Itu membuat Alit merasa kepalanya kian berat dan ia ingin meninggalkan tempat itu, meninggalkan pemandangan yang membuat matanya pedih. Akan tetapi pada saat yang sama ia juga ingin terus bertahan di sana. Ia ingin tahu apa saja yang akan dilakukan oleh perempuan itu selain menggelayuti lengan si lelaki berpakaian mewah. Ia ingin tinggal di sana selamanya, menyaksikan sampai sejauh mana seorang pengkhianat akan memeragakan seluruh tindak-tanduknya.
Dorongan yang saling bertentangan itu membuat kaki-kakinya mengeras dan hawa dingin terasa menjalar dari kakinya, merambati tulang belakangnya, dan ia merasakan kaki-kakinya seperti batang besi yang berkarat, kaku dan ngilu. Ia mencoba melemaskan kekakuan itu dan matanya tertuju pada topeng-topeng hiasan di dinding depannya. Tiba-tiba ia ingin mengenakan topeng yang mana saja. Ia tak sudi menunjukkan tampang yang tersiksa di depan perempuan itu. Ia tahu bahwa saat itu tampangnya mungkin sangat tersiksa. Karena itu ia ingin membungkus wajahnya dengan salah satu topeng yang tergantung di dinding.
Ia mengutuki pikiran yang mengada-ada. Ia mengutuki perempuan itu dalam hatinya. Belum lama perempuan itu menggelayuti lengannya; tetapi perempuan itu sepertimya tidak punya kenangan sama sekali. Hanya berselang dua pekan dan perempuan itu menyebutnya kuda pada pertemuan pertama mereka.
Ini kali kedua Alit mengunjungi tempat itu, dan ia datang dengan cinta berkobar-kobar, dengan tekad yang membakar seluruh dirinya. Ia ingin melarikan perempuan itu, membawanya melintasi padang-padang terbuka, menghirup udara di luar sana. Ia jatuh cinta pada perempuan itu, pada lenguhannya yang pertama, dan ia mengembangkan hasrat penyelamatan yang luhur ketika perempuan itu menggayutkan tangan di lengannya.
“Pergilah bersamaku,” katanya waktu itu.
Perempuan itu mengikik dan membekap mulut lelaki ingusan yang baru sekali itu bertemu dengannya.
“Bukalah bajumu,” kata perempuan itu. “Aku tak bisa berlama-lama.”
Perempuan itu menyebutnya kuda ketika ia membuka bajunya dan ia ingin perempuan itu naik ke punggungnya. Akan dibawanya perempuan itu lari dengan kaki-kakinya yang kokoh dan lincah. Tetapi kini kakinya seperti besi karatan. Dan tekadnya layu seketika. Perempuan itu tak memiliki kenangan.
Dengan langkah yang payah, ketika pemandangan di depannya makin tak tertahankan, Alit akhirnya keluar dari tempat itu. Ia datang lagi besoknya, namun perempuan itu tak ada. Ia keluar tak lama kemudian dengan mulut terkunci rapat-rapat, tetapi hatinya terus meracau. Sebetulnya ia ingin berteriak dan memaki nama perempuan itu sebelum keluar, tetapi ia tidak melakukan apa yang ia inginkan.
Ia sempat pergi sebentar ke kamar kecil tadi, menutup pintunya dan menguncinya. Ia ingat ada cermin rompal di dinding kamar kecil itu. Di sana ia ingin melihat wajahnya sendiri.
Alit mencoba tersenyum di depan cermin tetapi tampangnya sungguh kocar-kacir. Lalu ia benar-benar meninggalkan tempat judi itu tanpa mampu memperbaiki situasi tampangnya. Ia tetap kocar-kacir ketika sampai di rumah dan malam itu tak mudah baginya untuk memejamkan mata. Semalaman ia mendoakan segala kemungkinan terburuk bagi perempuan itu: semoga lelaki dower yang ia gelayuti menulari penyakit ganas yang tak bisa diobati. Semoga ia mati mendadak oleh bibir beracun lelaki itu.
Beberapa hari kemudian, setelah mengumpulkan uang sebisa-bisanya, ia datang lagi ke tempat judi itu. Perempuan yang ia doakan seburuk-buruknya itu tetap tak ada. Beberapa kali selanjutnya ia masih mendatangi tempat itu, tetapi ia tak pernah bertemu lagi dengan perempuan itu. Tiba-tiba terpikir olehnya, mungkin permpuan itu mati, mungkin doanya terkabul dan perempuan itu mati seketika.
Sampai sekarang, hampir dua puluh dua tahun sejak perempuan itu menyebutnya kuda, Alit kadang-kadang masih bertandang ke tempat itu dan ingin menanyakan kabar perempuan itu kepada orang-orang yang dijumpainya di sana. Namun ia tak pernah mengajukan pertanyaan. Ia selalu singgah sebentar ke kamar kecil sebelum meninggalkan tempat itu, mencoba tersenyum, dan mendapati bahwa situasi tampangnya memang sudah tidak bisa diperbaiki. (*)